Embung Batara Sriten : Telaga Buatan yang Tawarkan Pesona Alami

Kawasan pengunungan kapur Baturagung Utara, Gunungkidul, adalah kawasan yang tandus. Kawasan ini sering dilanda kekeringan saat musim kemarau. Untuk mencegah kekeringan, sebuah rentention basin dibangun. Rentention basin itu dinamakan Embung Batara Sriten.

Embung Batara Sriten adalah solusi pencegah kelangkaan air. Dengan memanfaatkan air hujan yang ditampung dalam embung itu, masyarakat kini mempunyai cadangan air di musim kemarau. Embung itu juga berperan besar dalam mengembangkan agrowisata perkebunan buah di sekitarnya.

Karakteristik fisik Embung Batara Sriten adalah berkapasitas sekitar 10.000 meter kubik. Bentuknya tidak terlalu besar. Embung itu dikelilingi pagar besi rendah. Di tepi-tepinya, ada jalan conblock untuk memudahkan akses kendaraan.

Nama Batara Sriten ternyata tidak ada hubungannya dengan batara yang berarti dewa. Sebutan Embung Batara Sriten ini diberikan karena lokasi embung yang berada di Pegunungan Baturagung Utara, yang kemudian disingkat menjadi “Batara”. Sementara itu, nama Sriten berasal dari nama dukuh tempat embung ini berada; Padukuhan Sriten.

Saat menelusuri tepi embung, pengunjung dapat melihat lapisan tipis geo membran. Lapisan ini digunakan untuk membuat telaga buatan ini. Lapisan tipis ini mirip dengan plastik hitam. Karena membran hitam itulah, Embung Batara Sriten tidak dipergunakan untuk memelihara ikan. Jika dimanfaatkan untuk tempat pengembangbiakan ikan, dikhawatirkan ikan akan merusak lapisan tipisnya. Akan tetapi, fauna berupa berudu-berudu kecil diperkenankan hidup di embung ini.

Meskipun Embung Batara Sriten merupakan objek wisata buatan manusia, pemandangan yang disuguhkan oleh lokasi sekitarnya merupakan pemandangan alami yang sangat luar biasa. Pengunjung bisa beristirahat di gazebo atau pendopo yang ada di sekitar embung. Buaian yang terpasang di dua pohon bisa membuat pengunjung nyaman hingga terlelap. Tidak jauh dari embung, warung-warung kaki lima siap menyajikan makanan dan minuman hangat.

Di lokasi Embung Batara Sriten, ada monumen penting bernama Puncak Tugu Magir. Monumen ini menandai puncak tertinggi di Kabupaten Gunungkidul (859 Mdpl). Tempat ini sering digunakan oleh atlet paralayang sebagai tempat awal mereka melayang. Makam yang dipercaya masyarakat setempat sebagai Petilasan Syeh Wali Jati, kerabat Sultan Jogja, juga terletak di titik tertinggi ini. Baca juga : Asiknya Berwisata Ke Taman Air Tlatar – Boyolali Dengan Rental Mobil Solo

Akses menuju lokasi wisata:

Akses menuju Pegunungan Baturagung Utara cukup “menegangkan.” Tempat ini adalah dataran tertinggi di Kabupaten Gunungkidul. Tanjakan-tanjakan menuju telaga buatan sangat curam dan panjang. Keadaan cor blok jalan mulai rusak sehingga menambah kengerian jalanan. Setelah jalan cor blok, pengunjung harus melewati sekitar 5,5 kilometer jalanan berbatu kapur. Area tempat parkir Embung Batara Sriten terletak di ketinggian lebih dari 800 Mdpl, berbentuk tanah datar tertutup conblock. Embung Batara Sriten cocok dikunjungi oleh orang-orang yang berjiwa petualang tinggi, pecinta olah raga paralayang, dan pecinta aktivitas berkemah.