Kampung Batik Laweyan, Tempat Wisata Budaya Batik dan Arsitektur Eropa

Kampung Batik Laweyan merupakan sentra batik di Kota Surakarta yang sudah ada sejak abad keeempat belas, tepatnya di kala pemerintahan Kerajaan pajang masih berkuasa. Batik Laweyan pun pertama kali dipopulerkan oleh Kyai Ageng Henis yang hidup di jaman tersebut.

Asal nama Laweyan adalah dari kata “lawe” yang berarti benang dari kapas yang dipintal. Hal ini sesuai dengan keadaan Laweyan yang merupakan sentra pembuatan kain.

Kampung Batik Laweyan sering dijadikan destinasi wisata budaya wisatawan domestik dan mancanegara. Faktor penarik wisatawan sudah pastinya adalah banyaknya industri batik rumahan yang masih membuat produk batik secara tradisional. Para pengusaha batik masih menggunakan malam/lilin serta mewarnai kain batik dengan bahan alami. Bagi mereka, menggunakan mesin modern untuk memproduksi batik telah menyimpang dari sejarah pembuatan batik.

Penggemar lansekap pun menyukai peninggalan-peninggalan rumah tua berarsitektur Eropa. Rumah-rumah ini adalah bekas rumah saudagar batik jaman dahulu. Situs bersejarah di Laweyan adalah Museum Samanhudi. Seperti diketahui, Samanhudi adalah tokoh pergerakan nasional yang mendirikan Sarekat Dagang Islam. Makam, masjid, dan tempat pertemuan yang dibangun pada jaman kolonial sebagian besar masih terawat dengan baik.

Batik, sebagai warisan budaya tak benda dunia menurut UNESCO, adalah warisan tak ternilai yang membanggakan penduduk Laweyan. Masyarakat setempat menjaga dan memelihara warisan-warisan ini karena sadar bisa dijadikan komoditas atraksi wisata.

Industri batik terus berkembang agar tidak tergerus perkembangan haman. Motif, warna, tipe, dan model batik yang dibuat kini beragam. Motif-motif batik monoton kini ditinggalkan dan digantikan motif-motif yang lebih dinamis. Meskipun demikian, motif-motif batik bersejarah dan bernilai filosofi tinggi masih dipertahankan. Di Solo, terdapat Museum Batik Danar Hadi yang mendokumentasikan sekaligus memamerkan koleksi-koleksi kain batik.

Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) mengelola klaster industri batik di Kampung Batik Laweyan sejak tahun 2004. Mereka berhasil mensinergikan pengembangan pariwisata batik dengan pelestarian kawasan cagar budaya dan pengembangan industri batik. Buktinya, saat batik kembali menjadi tren fesyen di negeri sendiri, perhatian wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Kampung Batik Laweyan meningkat. Selain itu, wisata edukatif yang mulai diminati wisatawan pada tahun 2008 memberikan peluang kepada pengusaha batik untuk membuka kursus membatik bagi wisatawan. Baca juga : Asiknya Berwisata Ke Taman Air Tlatar – Boyolali Dengan Rental Mobil Solo

Wisatawan dapat membeli batik cap maupun batik tulis dengan berbagai model untuk berbagai keperluan. Harga batik cap bervariasi dari murah hingga mahal tergantung bahan dan kerumitan motif. Sementara itu, harga satu kain batik tulis bisa mencapai jutaan. Selain kain, ada baju, sandal, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya yang dijual di Kampung Batik Laweyan. Dengan demikian, Kampung Batik Laweyan juga termasuk kawasan wisata belanja tradisional yang rekomended.